
Dishubkominfo, Singaparna – Di zaman sekarang, teknologi deepfake semakin realistis.
Wajah, suara, dan gerakan bisa ditiru dan dimanipulasi dengan detail tinggi.
Banyak orang tertipu karena tampilannya yang terlihat meyakinkan.
Video artis, tokoh publik, bahkan pejabat bisa dimanipulasi tanpa izin.
Saat ini deepfake sering dipakai untuk berita dan informasi hoaks.
Konten palsu dibuat seolah tokoh tertentu mengucapkan pernyataan kontroversial.
Deepfake juga marak dipakai untuk penipuan. Pelaku meniru suara atasan atau keluarga untuk meminta transfer uang.
Di beberapa kasus, deepfake dipakai untuk merusak reputasi seseorang lewat video palsu.
Namun, ada beberapa cara untuk membedakan mana video atau konten yang asli atau hasil deepfake.
1. Dapat diperhatikan dari mata dan gerakan bibir yang terlihat aneh.
Kedipan mata dari hasil deepfake cenderung tidak natural, dan gerakan bibir tidak sinkron dengan suara yang keluar.
Kedipan mata dari hasil deepfake cenderung tidak natural, dan gerakan bibir tidak sinkron dengan suara yang keluar.
2. Cek bagian bayangan dan pencahayaan yang tidak konsisten.
Jika hasil deepfake cahaya di area wajah tidak sama dengan latar.
Warna kulit juga akan berbeda di beberapa bagian video Warna kulit juga akan berbeda di beberapa bagian video.
3. Jika sudah memperhatikan visualnya, bisa di cek juga suara dari hasil videonya.
Suara hasil deepfake terdengar datar pada intonasi suaranya, dan seperti tidak mempunyai emosi.
Jika sudah diperhatikan dan masih ragu, gunakan alat verifikasi. Beberapa tools yang bisa kita pakai antara lain Deepware, Sensity AI, dan Reality Defender.
Cara menggunakan tools tersebut cukup dengan mengunggah foto atau video yang ingin dicek. Sistem akan menganalisis pola manipulasi berbasis AI.
Pada tahap terakhir dan yang paling penting, jangan langsung percaya.
Cek sumber pertama yang mengunggah pastikan sumber kredibel dan dapat dipercaya.
Lihat konteks video secara utuh. Cari klarifikasi dari media resmi atau akun terverifikasi.
Saat ini kita hidup di era dimana visual tidak selalu bisa dipercaya.
Diharapkan kita bisa kritis sebelum membagikan atau verifikasi sebelum bereaksi.
Itu cara paling aman agar tidak ikut menyebarkan konten palsu yang berbahaya.*****
