
Dishubkominfo, Singaparna – Di tengah semakin ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi, menjaga kejujuran dalam proses seleksi menjadi hal yang tidak dapat ditawar.
Setiap calon mahasiswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih bangku kuliah melalui kemampuan, kerja keras, dan prestasi yang dimiliki, tanpa harus bergantung pada kedekatan atau campur tangan pihak tertentu.
Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik (IKP) Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya, Roni Imroni, menjelaskan semangat tersebut yang tercermin dalam slogan ‘Natural Tanpa Ordal’.
“Slogan ‘Natural Tanpa Ordal’ merupakan ajakan moral agar setiap calon mahasiswa masuk ke perguruan tinggi melalui kemampuan, kerja keras, dan prestasi. Bukan karena kedekatan, tekanan, atau bantuan pihak tertentu yang dapat mencederai integritas proses seleksi,” ujar Kabid Roni.
Menurut Kabid Roni, perguruan tinggi merupakan tempat lahirnya ilmu pengetahuan, karakter, sekaligus calon pemimpin masa depan. Karena itu, setiap tahapan penerimaan mahasiswa harus berpegang pada prinsip keadilan, transparansi, akuntabilitas, dan meritokrasi.
Kabid Roni menambahkan, budaya ‘ordal’ atau penyalahgunaan orang dalam berpotensi membuka ruang bagi praktik gratifikasi, konflik kepentingan, hingga penyalahgunaan wewenang.
Kondisi tersebut tidak hanya merugikan peserta yang berjuang secara jujur, tetapi juga dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan.
Sebaliknya, mahasiswa yang diterima berdasarkan kompetensi akan memiliki rasa percaya diri, tanggung jawab, dan kebanggaan karena keberhasilannya benar-benar diperoleh melalui usaha sendiri.
Nilai inilah yang menjadi fondasi terbentuknya imunitas akademik, yakni keteguhan moral untuk menolak segala bentuk titipan, intervensi, maupun praktik yang bertentangan dengan etika akademik.
Roni menegaskan, menjaga integritas pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab perguruan tinggi, melainkan juga memerlukan dukungan orang tua, masyarakat, penyelenggara pendidikan, hingga seluruh pemangku kepentingan agar proses seleksi tetap bersih, objektif, dan bebas dari praktik koruptif.
“Natural Tanpa Ordal bukan sekadar slogan, melainkan gerakan moral untuk memastikan bahwa setiap bangku kuliah diperoleh melalui prestasi, bukan privilese; melalui kompetensi, bukan koneksi; melalui integritas, bukan gratifikasi. Karena pendidikan yang bermartabat dimulai dari proses yang jujur. Integritas hari ini akan melahirkan pemimpin yang berintegritas di masa depan,” pungkas Roni.***
