
Dishubkominfo, Singaparna – Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di era digital menuntut setiap pemimpin memiliki kemampuan literasi yang baik.
Tidak hanya sekadar membaca informasi, tetapi juga mampu memahami, menyaring, menafsirkan, hingga menggunakan informasi secara bijak demi kepentingan masyarakat dan organisasi yang dipimpinnya.
Kepala Bidang Informasi Komunikasi Publik (IKP) Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya, Roni Imroni, menyampaikan bahwa kepekaan literasi menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kepemimpinan yang adaptif di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
“Pemimpin masa kini dituntut memiliki kepekaan literasi, yaitu kemampuan memahami, menyaring, menafsirkan, dan menggunakan informasi secara bijak demi kepentingan masyarakat dan organisasi yang dipimpinnya,” ujarnya.
Menurut Kabid Roni, literasi kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca buku atau informasi semata, tetapi juga kemampuan membaca situasi, memahami perubahan zaman, menangkap aspirasi masyarakat, hingga memahami dampak dari setiap kebijakan yang diambil.
Ia menjelaskan, pemimpin yang memiliki kepekaan literasi akan lebih peka terhadap persoalan sosial, cepat memahami kebutuhan publik, serta mampu merumuskan solusi yang tepat dan manusiawi.
Di era digital saat ini, informasi hadir tanpa batas melalui berbagai platform seperti media sosial, portal berita, video pendek, hingga perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kondisi tersebut membuat pola pikir masyarakat berubah dengan sangat cepat.
“Tanpa kepekaan literasi, seorang pemimpin mudah terjebak pada keputusan reaktif, pencitraan semata, bahkan disinformasi,” tegas Kabid Roni.
Karena itu, ia menilai literasi menjadi fondasi penting dalam membangun kepemimpinan yang beradab dan dipercaya masyarakat. Pemimpin yang memiliki budaya literasi cenderung lebih terbuka terhadap pembelajaran dan tidak merasa paling benar.
“Ia terus memperkaya wawasan dari berbagai sumber. Kebiasaan membaca, berdiskusi, mendengar aspirasi, dan mengkaji data akan melahirkan keputusan yang lebih matang dan berbasis kebutuhan nyata,” tambahnya.
Dalam konteks pemerintahan, kepekaan literasi juga membantu pemimpin memahami dinamika sosial, budaya lokal, perkembangan teknologi, hingga tantangan global yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Kabid Roni menegaskan, pemimpin yang baik tidak hanya membaca laporan di atas meja, tetapi juga mampu membaca kondisi masyarakat secara langsung di lapangan.
“Ia mampu menangkap kegelisahan rakyat, memahami bahasa masyarakat kecil, dan merasakan persoalan yang terjadi di lapangan,” ungkapnya.
Selain itu, pemimpin yang literat dinilai akan lebih siap menghadapi perubahan, mampu memanfaatkan teknologi secara positif, serta mendorong budaya kerja yang kritis dan solutif. Sikap terbuka terhadap kritik juga menjadi bagian penting dalam proses perbaikan.
“Kepekaan literasi adalah cermin kualitas kepemimpinan itu sendiri. Pemimpin yang gemar belajar, peka terhadap informasi, serta bijak dalam memahami realitas sosial akan lebih mampu membawa organisasi menuju kemajuan,” pungkasnya.*****
